Kamis, 23 Mei 2019

Ketika Sholat Tidak Khusu

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Terkadang dan sering kita sholat mikirin kerjaan, mikirin teman, mikirin instagram dan lain-lain.

Para ulama selalu menekankan agar kita mengerjakan shalat dengan khusu’. Apakah yang dimaksud dengan khusu’ itu? Dan apa pula manfaatnya?

Khusu’ dalam shalat merupakan perkara yang sangat penting, sebab hal itu merupakan tujuan utama dari shalat yang kita kerjakan. Sesuai dengan firman Allah :

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Tunaikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS Thaha: 14)

Dalam istilah ahli hakikat, khusu’ adalah patuh pada kebenaran. Ada yang mengatakan bahwa khusu’ adalah rasa takut yang terus menerus ada di dalam hati (Kitab At-Ta’rifat, 98).

Lebih jelas lagi, Syeikh ’Ala’udin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi mengatakan, khusu’ dalam shalat adalah menyatukan konsentrasi dan berpaling dari selain Allah serta merenungkan segala yang diucapkannya, baik berupa bacaan Al-Qur’an maupun dzikir. (Tafsir Al-Khazin, juz V, hal 32)

Jadi khusu’ merupakan kondisi di mana seseorang melakukan shalat dengan memenuhi segala syarat, rukun dan sunnah shalat, serta dilakukan dengan tenang, penuh konsentrasi, meresapi dan menghayati ayat juga semua dzikir yang dibaca dalam shalat. (www.nu.or.id)

Dibawah ini ana akan share Tips Sholat Khusyuk Dari Habib Umar Bin Hafidz
Ya beliau adalah ulama dari tarim yang menjadi rujukan ulama dunia yang selalu ditunggu fatwa-fatwanya …

1.    (Hudurul Qolb) Hadirnya hati.
Hadirnya hati harus di latih terus-menerus, bila hati kemana-mana paksa untuk kembali lagi, Insya Allah, hati akan terbiasa hudhur.

2.    (Tafahhumul Ma’ani) Memahami arti
atas apa yang kita katakan dan kita sedang lakukan.

3.    (Al ijlal watta’dzhim ) Adanya rasa mengagungkan dan memulyakan kepada Allah
Terkadang kita hadir hati, mengetahui arti, tapi tanpa pengagungan hal ini seperti seseorang yang memahami perkataan anak kecil yaitu tidak terlalu menghiraukannya.

4.    (Al ijlal watta’dzhim ma’al Haibah) Hendaknya rasa memulyakan dan pengagungan tadi di iringi dengan rasa haibah (kewibawaan).
Haibah: Rasa takut yang timbul karena rasa mengagungkan. Takut sholat kita tidak di terima oleh Allah .

5.    (ar-Roja’) Kuatnya harapan bahwa sholat kita di terima oleh Allah
juga menjadi sebab dekatnya kita pada Allah serta mengharapkan mendapat balasan yang agung.
.
6.    (Haya’) Adanya rasa malu
bahwasannya kita tidak menunaikan hak Allah dengan semestinya.

Kemudian Habib Umar mengatakan:
“Jika enam kriteria ini terdapat padamu, maka sholatmu bisa di katakan sholat yang khusyu’.” .
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang khusyu’ dalam sholat. Aamiin yaa Allah (dari telegram Majelis Ahlulbayt)

Menurut Teman Saya kang usrip sugita sekaligus guru ngaji saya (beliau teman sekolah saya tapi ilmunya Masya Allah semoga Allah ridho kepadanya …
Beliau bilang “ khusu menurut syariat memang tidak disyaratkan,
tapi dalam surat al-maun ayat 4-5 Allah berfirman,
 فويل للمصلين الذبن هم عن صلاتهم ساهون
Celaka lah bagi orang orang yang sholat, yaitu yang lalai dalam sholatnya. Lalai dalam sholat itu sholat akan tetapi hatinya tidak khusu.
Konsep ibadah itu adalah ihsan. Yaitu kita beribadah seolah olah kita melihat Allah , walaupun kita tidak melihat Allah   maka yakinlah Allah itu melihat kita.

اللَّهُ أَعْلَمُ
Allah Maha Mengetahui

Tidak ada komentar:

Posting Komentar