Jumat, 24 Mei 2019

Demi Berhaji ke Baitullah, Rela ngesot dari Samarkand


Tidak salah jika Al-Imam Abul Qasim Junaid Al-Baghdadi berkata :

حكايات الصالحين جند من جنود الله

Kisah kisah (keteladanan) para shalihin adalah tentara dari bala tentara Allah
(yang menguatkan batin kita seperti tentara yg menguatkan dan menjaga sebuah negara).

Salah satu dari kisah para shalihin yg membuat hati bergetar disaat membacanya adalah apa yang dikisahkan DR. Abuya As-Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam salah satu kitabnya " Qul Hadzihi Sabili ", Beliau berkata :

وعن شقيق البلخي رحمه الله قال : رأيت فى طريق مكة مقعدا يزحف على الأرض فقلت له : من أين أقبلت ؟ قال : من سمرقند ، قلت : وكم لك فى الطريق ، فذكر أعواما تزيد على العشرة ، فرفعت طرفي أنظر اليه متعجبا فقال يا شقيق ما لك تنظر إلي متعجبا ؟ فقلت أتعجب من ضعف مهجتك وبعد سفرك فقال : يا شقيق أما بعد سفري فالشوق يقويه وأما ضعف مهجتي فمولاها يحملها ، يا شقيق ، أتعجب من عبد يحمله المولى اللطيف وأنشأ يقول :
أزوركم والهوى صعب مسالكه # والشوق يحمل والآمال تسعده
ليس المحب الذي يخشى مهالكه # كلا ولا شدة الأسفار تبعده


Dari Syaqiq Al-Balkhi rohimahullah, beliau berkata :

Dijalan menuju Mekkah aku melihat orang lumpuh berjalan ngesot ditanah, aku bertanya "Tuan dari mana ?" Ia menjawab : "dari Samarkand (wilayah Uzbekistan)". "Berapa lama tuan diperjalanan ?" Ia menjawab, "lebih 10 tahun" . Aku pandangi ia dengan penuh takjub, dan dia pun berkata : "Wahai Syaqiq apa yang membuatmu memandangiku dengan rasa takjub seperti itu ?", "Aku heran dengan tubuh lemahmu kau bisa menempuh perjalanan yg sangat jauh". Orang itu menjawab : "Wahai Syaqiq, Jauhnya perjalananku, rinduku yang menguatkannya. Tubuh yang lemah, Tuhanlah yang membawanya. Wahai Syaqiq, kenapa kau heran kepada hamba yang dibawa tuhannya yang maha penyayang ?"

Orang itu kemudian melantunkan dua bait syi'ir yang artinya :

Aku datang kepadamu (Ya Allah ) disaat hawa nafsuku sulit untuk dikendalikan, namun rinduku yg membawanya dan cita citaku yg menjanjikan keberuntungan kepadanya.

Pecinta itu bukan orang yg takut resiko dan bukan juga orang yang tidak mau menanggung capeknya perjalanan.

Begitu jauhnya perjalanan yg ia tempuh ? Padahal antara Samarkand Mekah terpisah jarak 4.267 KM.

Betapa kuasanya Allah yg memberinya kekuatan tekad hingga betah berjalan ngesot dalam kurun waktu lebih sepuluh tahun.

Namun apa yg terjadi dg kita yg diberi kesempurnaan fisik ? Alih alih berjalan dengan cara ngesot, dg berjalan kakipun sepertinya hari ini sudah menjadi sesuatu yg mustahil. Bahkan terjadi malah sebaliknya, untuk datang ke mesjid yg hanya berjarak 100 meter atau bahkan kurang kita sering lalai.

Disinilah letak mahalnya hidayah. Siapapun orangnya, bagaimanapun kondisi fisiknya, jika Allahyang menuntunnya kejalan yang benar dan diridloinya maka ia akan mampu menjalaninya dg tabah dan sabar.

Imam Abu Ali Syaqiq Bin Ibrahim Al-Balkhi adalah Ulama sufi dari Kharasan, Irak. Beliau salah satu guru dari Imam,, Hatim Al-Ashom, Wafat 194 H / 810 M. (Ar-Risalah Al-Qusyairiyah 397)(dari telegram dalwa kisah)


اللَّهُ أَعْلَمُ
Allah Maha Mengetahui

Bersabarlah Dalam Mengetuk Pintu Allah ﷻ


:books: سلسلة الدار الآخرة صـ ١٦ جـ ٢

قال الفضيل بن عياض: تعلمت الصبر من صبي صغير، يقول: ذهبت مرة إلى المسجد فوجدت امرأة تنظر من داخل دار، وهي تضرب ابنها، وهو يصرخ، ففتح الباب وهرب، فأغلقت عليه الباب، قال: فلما رجعت نظرت فلقيت الولد بعدما بكى قليلاً نام على عتبة الباب يستعطف أمه؛ فرق قلب الأم ففتحت الباب، فبكى الفضيل حتى ابتلت لحيته بالدموع وقال: سبحان الله! لو صبر العبد على باب الله عز وجل لفتح الله له.


Berkata Al-Fudhail bin 'Iyadh :

"Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil laki-laki :
Suatu saat aku berangkat ke masjid, aku melihat seorang wanita sedang memukul anak laki-lakinya di dalam rumahnya, anak lelaki tersebut berteriak kemudian dia membuka pintu dan lari, lalu wanita tersebut menutup pintu dengan rapat agar anaknya tidak bisa masuk.
Ketika aku pulang dari masjid, aku melihat kecil anak tadi tertidus pulas di depan pintu rumahnya menunggu pintu itu terbuka, terlihat jelas bekas air mata menggenang di pipinya.
Ketika melihat anaknya dalam keadaan seperti itu wanita tersebut terenyuh dan tidak tega, akhirnya dia membukkan pintu untuk anaknya."
Maka menangis Al-Fudhail sampai membasahi jenggotnya dengan air mata dan berkata :

"Maha suci Allah ﷻ, Jikalau seorang hamba bersabar menunggu di depan pintu-Nya, niscaya Allah ﷻ akan membukakan pintu untuk hamba tersebut"

Refrensi : Silsilah Al-Dharul Al-Akhirah, hlm 16, Juz 2 (dari telegram dalwa kisah)


اللَّهُ أَعْلَمُ
Allah Maha Mengetahui

AMALAN PADA MALAM HARI RAYA 'IDUL FITRI DAN 'IDUL ADHA


Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه أن رسول ﷺ قال: “من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب” رواه الطبراني في الكبير والأوسط.

Dari Ubadah Ibn Shomit r.a. Sungguh Rosulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adlha, hatinya tidak akan mati, di hari matinya hati." ( HR.Thobaroni )

عن أبي أمامه رضي الله عنه عن النبي ﷺ قال : “من قام ليلتي العيدين محتسباً لم يمت قلبه يوم تموت القلوب”. وفي رواية “من أحيا” رواه ابن ماجه

Dari Abi Umamah r.a, dari Nabi ﷺ, bersabda: Barangsiapa beribadah di dua malam Hari Raya dengan hanya mengharap ALLAH  , maka hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati. ( HR. Ibnu Majah )

Bagaimana cara menghidupkan dua Hari Raya itu? Telah disebutkan oleh Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dengan mengamalkan beberapa amalan:

1. Syaikh Al Hafni berkata: Ukuran minimal menghidupkan malam bisa dengan Sholat Isya’ berjama’ah dan meniatkan diri untuk jama’ah Sholat Shubuh pada besoknya. Atau memperbanyak sholat sunnah dan bacaan-bacaan dzikir
( Dan dzikir yang paling di anjurkan di malam hari raya adalah bacaan takbir / takbiran ) .

2. Syaikh Al Wanna’i dalam risalahnya: Barangsiapa membaca ISTIGFHAR seratus kali (100×) setelah Sholat Shubuh di pagi Hari Raya, maka akan dihapus dosa-dosanya di dalam buku catatannya, dan pada hari kiamat akan aman dari siksa.

3. Masih dari Syaikh Al Wanna’i: Barangsiapa membaca :

سُبٍحَانَ اللّٰه وَبِحَمْدِهِ 100x

pada Hari Raya, dan menghadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka para ahli kubur berkata,”Wahai Dzat Yang Maha Penyayang, rahmatilah ia, dan jadikanlah ia ahli surga”.

4. Syaikh Al Fasyni berkata dalam Tuhfatul Ikhwan: Dari Sahabat Annas, dari Nabi ﷺ, bersabda (yang artinya): Hiasilah dua Hari Raya dengan tahlil, taqdis, tahmid dan takbir”. Nabi juga bersabda : Barangsiapa yang membaca:

سُبٍحَانَ اللّٰه وَبِحَمْدِهِ 300x

Dan ia menghadiahkan bacaan tersebut untuk kaum musliminin yang sudah wafat, maka seribu cahaya akan masuk di setiap kuburan, dan Allah  akan memasukkan seribu cahaya ke kuburnya jika ia meninggal.

5. Syaikh Az Zuhri berkata: Sahabat Anas r.a. berkata, Nabi ﷺ bersabda (yang artinya): Barangsiapa di dua Hari Raya mengucapkan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَحْدَهُ لاَ شِريْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْر وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئً قَدَيْر

sebanyak 400× sebelum Sholat ‘Ied, maka Allah   akan menikahkannya dg 400 bidadari, seakan memerdekakan 400 budak, dan Allah   mewakilkan para malaikat untuk membangun kota-kota dan menanam pohon-pohon untuknya di hari kiamat.

Beliau Syaikh Az Zuhri berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Sahabat Anas r.a.  Dan Anas r.a. dahulu jg berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Nabi ﷺ.”

SUMBER : Kitab Kanzun Najah Wa Surur

Semoga, semua ibadah yang yang telah kita kerjakan dibulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya diterima oleh Allah  ....
Dan semoga semua dosa yang pernah kita kerjakan, baik sengaja maupun tidak, baik kita ketahui ataupun tidak, dosa kecil maupun dosa yang besar, semoga Allah   menghapus semuanya, sehingga tidak tersisa pada diri kita kecuali kebaikan dan ridho-Nya...
Amin Ya robbal Alamin. . .(dari telegram dalwa dakwah)

اللَّهُ أَعْلَمُ
Allah Maha Mengetahui

Solusi Hidup Tenang




قال الأوزاعي رحمه الله قلتُ لرجل : أُريد بيتًا بجوار أُناس لا يغتابون ، ولا يحسدون، ولا يبغضون ؟
فأخذني الرجل إلى المقبرة وقال لي : هنا !
Imam Auza'i rahimahullah pernah mengadu kepada seseorang : Aku ingin sebuah rumah yang berdampingan dengan manusia-manusia yang tidak suka menggunjingan di antara mereka, tidak ada yang saling hasud, dan tidak ada yang saling benci satu dengan lainnya.

Lalu orang tersebut menuntun aku ke pemakaman umum dan berkata "Di sinilah tempat yang tidak ada gunjingan, tidak ada caci mencaci dan tidak yang saling benci diantara mereka."

Termasuk hal yang mustahil yang selalu dicari oleh manusia adalah ketenangan hidup

الدنيا دار البلاء والآخرة دار الجزاء

Dunia adalah tempatnya ujian, banjir, tanah longsor, perang dan lain sebagainya. Dunia adalah tempat yang tidak ada ketenangan diatasnya. Adapun akherat adalah tempat balasan Allah bagi hamba-hambanya yang sabar dan lolos dari ujian diatas dunia.

Walhasil, konsekuensi orang yang hidup adalah harus siap menerima cobaan dan cacian.(dari telegram ramadan)


nah jadi begitu teman-teman dalam hidup pasti selalu ada cobaan dan rintangan yang menghadang, jadi jikalau teman-teman galau, risau, silakan ke pemakaman umum ya hehe...
disana teman-teman bisa tenang dan ingat mati pasti.
Maka bersyukurlah !



اللَّهُ أَعْلَمُ
Allah Maha Mengetahui

Kamis, 23 Mei 2019

Ketika Sholat Tidak Khusu

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Terkadang dan sering kita sholat mikirin kerjaan, mikirin teman, mikirin instagram dan lain-lain.

Para ulama selalu menekankan agar kita mengerjakan shalat dengan khusu’. Apakah yang dimaksud dengan khusu’ itu? Dan apa pula manfaatnya?

Khusu’ dalam shalat merupakan perkara yang sangat penting, sebab hal itu merupakan tujuan utama dari shalat yang kita kerjakan. Sesuai dengan firman Allah :

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Tunaikanlah shalat untuk mengingat-Ku. (QS Thaha: 14)

Dalam istilah ahli hakikat, khusu’ adalah patuh pada kebenaran. Ada yang mengatakan bahwa khusu’ adalah rasa takut yang terus menerus ada di dalam hati (Kitab At-Ta’rifat, 98).

Lebih jelas lagi, Syeikh ’Ala’udin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi mengatakan, khusu’ dalam shalat adalah menyatukan konsentrasi dan berpaling dari selain Allah serta merenungkan segala yang diucapkannya, baik berupa bacaan Al-Qur’an maupun dzikir. (Tafsir Al-Khazin, juz V, hal 32)

Jadi khusu’ merupakan kondisi di mana seseorang melakukan shalat dengan memenuhi segala syarat, rukun dan sunnah shalat, serta dilakukan dengan tenang, penuh konsentrasi, meresapi dan menghayati ayat juga semua dzikir yang dibaca dalam shalat. (www.nu.or.id)

Dibawah ini ana akan share Tips Sholat Khusyuk Dari Habib Umar Bin Hafidz
Ya beliau adalah ulama dari tarim yang menjadi rujukan ulama dunia yang selalu ditunggu fatwa-fatwanya …

1.    (Hudurul Qolb) Hadirnya hati.
Hadirnya hati harus di latih terus-menerus, bila hati kemana-mana paksa untuk kembali lagi, Insya Allah, hati akan terbiasa hudhur.

2.    (Tafahhumul Ma’ani) Memahami arti
atas apa yang kita katakan dan kita sedang lakukan.

3.    (Al ijlal watta’dzhim ) Adanya rasa mengagungkan dan memulyakan kepada Allah
Terkadang kita hadir hati, mengetahui arti, tapi tanpa pengagungan hal ini seperti seseorang yang memahami perkataan anak kecil yaitu tidak terlalu menghiraukannya.

4.    (Al ijlal watta’dzhim ma’al Haibah) Hendaknya rasa memulyakan dan pengagungan tadi di iringi dengan rasa haibah (kewibawaan).
Haibah: Rasa takut yang timbul karena rasa mengagungkan. Takut sholat kita tidak di terima oleh Allah .

5.    (ar-Roja’) Kuatnya harapan bahwa sholat kita di terima oleh Allah
juga menjadi sebab dekatnya kita pada Allah serta mengharapkan mendapat balasan yang agung.
.
6.    (Haya’) Adanya rasa malu
bahwasannya kita tidak menunaikan hak Allah dengan semestinya.

Kemudian Habib Umar mengatakan:
“Jika enam kriteria ini terdapat padamu, maka sholatmu bisa di katakan sholat yang khusyu’.” .
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang khusyu’ dalam sholat. Aamiin yaa Allah (dari telegram Majelis Ahlulbayt)

Menurut Teman Saya kang usrip sugita sekaligus guru ngaji saya (beliau teman sekolah saya tapi ilmunya Masya Allah semoga Allah ridho kepadanya …
Beliau bilang “ khusu menurut syariat memang tidak disyaratkan,
tapi dalam surat al-maun ayat 4-5 Allah berfirman,
 فويل للمصلين الذبن هم عن صلاتهم ساهون
Celaka lah bagi orang orang yang sholat, yaitu yang lalai dalam sholatnya. Lalai dalam sholat itu sholat akan tetapi hatinya tidak khusu.
Konsep ibadah itu adalah ihsan. Yaitu kita beribadah seolah olah kita melihat Allah , walaupun kita tidak melihat Allah   maka yakinlah Allah itu melihat kita.

اللَّهُ أَعْلَمُ
Allah Maha Mengetahui

Ghibah” yang Dibolehkan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ternyata ada juga lho ghibah yang dibolehkan



Dalam kitab, Raudhatu at-Thalibin wa ‘Umdatu al-Muftin, dan al-Adzkar, Imam an-Nawawi menyatakan,



“Ghibah” itu dibolehkan karena ada enam alasan. Saya telah menjelaskannya dengan berbagai bukti, apa yang terkait dengannya, dan beberapa jalan keluarnya dalam bagian akhir kitab al-Adzkar:

1. Mengadukan kezaliman
Boleh bagi orang yang dizalimi untuk mengadukan kezaliman kepada Sultan [Khalifah], Qadhi [hakim] dan yang lain, yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menegakkan keadilan dari pelaku yang telah mezaliminya. Maka, dia bisa mengatakan, “Saya telah dizalimi Si Fulan. Dia telah melakukan begini kepada saya.”

2.  Meminta Bantuan Untuk Mengubah Kemunkaran
Mengembalikan orang yang maksiat agar kembali ke jalan yang benar. Maka dia bisa mengatakan kepada siapa saja yang diharapkan, dengan kemampuannya, bisa menghilangkan kemunkaran. “Si Fulan telah melakukan perbuatan begini, maka cegahlah dia dari perbuatan itu.” Atau sejenisnya.

3.  Meminta Fatwa
Misalnya, mengatakan kepada Mufti, “Saya telah dizalimi Si Fulan, atau ayahku, atau saudaraku begini. Apakah dia berhak melakukan itu, atau tidak? Lalu, bagaimana caranya saya bisa melepaskan diri dari kezalimannya, dan mengelakkan kezalimannya terhadap diriku?” dan sejenisnya. Begitu juga, dia mengatakan, “Isteriku telah melakukan begini denganku.” Atau, “Suamiku telah memukulku, dan mengatakan kepadaku begini.” Semuanya ini boleh, karena dibutuhkan. Untuk lebih berhati-hati, hendaknya dia mengatakan, “Bagaimana pendapat Anda terhadap seseorang, suami, atau orang tua dengan tindakannya begini?” Meski demikian, jika dinyatakan secara definitif juga boleh. Berdasarkan hadits Hindun, dalam Shahih Bukhari dan Muslim, “Abu Sufyan itu orang yang pelit..” [al-Hadits].

4.  Memberi Peringatan Kepada Kaum Muslim Akan Keburukannya.
Antara lain tampak pada beberapa aspek:

Antara lain, menyatakan cacat orang yang memang cacat, baik perawi, saksi maupun pengarang. Itu boleh berdasarkan ijmak, bahwa wajib, karena untuk melindungi syariah.

Antara lain, jika Anda diminta pendapat seseorang tentang keluarganya, syarikah, titipannya, atau titipan orang padanya, atau mu’amalahnya dengan pihak lain, maka Anda wajib menyebutkan kepadanya apa yang Anda tahu tentangnya sebagai nasihat. Jika tujuan tersebut tercapai dengan Anda mengatakan, “Kamu tidak pantas bermu’amalah dengannya, atau berkeluarga dengannya, atau jangan melakukan ini, atau sejenisnya.” Jika menambah dengan menyebut keburukannya tidak cukup, jika tujuannya tidak tercapai, kecuali dengan terus terang secara definitif, maka sebutkanlah sebagai bentuk nasihat.

Antara lain, jika Anda melihat seseorang membeli barang yang cacat, atau budak yang tukang mencuri, pezina, atau pemabuk, lalu Anda mengingatkan pembelinya, jika dia belum mengetahuinya, sebagai bentuk nasihat, bukan untuk tujuan menyusahkan atau merusaknya.

Antara lain, Anda melihat orang yang belajar fiqih, bolak-balik mendatangi orang fasik dan ahli bid’ah untuk menjadikannya rujukan ilmu, Anda mengkhawatirkan bahaya orang itu, maka Anda wajib memberi nasihat kepadanya, dengan menjelaskan keadaannya dengan tujuan untuk memberi nasihat.

Antara lain, orang yang mempunyai kekuasaan, yang tidak menunaikannya sebagaimana mestinya, karena memang tidak mampu, atau fasik. Anda mengingatkannya kepada orang yang mempunyai kemampuan menjadi penguasa, agar bisa menggantikannya, atau dia mengetahui keadaannya, tetapi tidak menjadikannya sebagai pelajaran, atau mengharuskannya untuk meluruskannya.

5.  
Orang yang mendemonstrasikan kefasikan, atau bid’ahnya
Seperti minum khamer, menyita harta milik masyarakat, menarik pajak, mengendalikan perkara-perkara yang batil, maka boleh disebutkan apa yang dia demonstrasikan itu, sedangkan yang lain tidak boleh, kecuali ada alasan lain.

6.  Memperkenalkan Nama
Jika orang itu dikenal dengan gelar, seperti al-A’masy [rabun], al-A’raj [pincang], al-Arzaq, al-Qashir [pendek], dan sebagainya. Boleh mengenalkannya dengan gelar itu. Tapi, haram menyebut gelar tersebut, jika dimaksud untuk melecehkannya. Jika bisa memperkenalkan dengan gelar lain, tentu lebih baik.

Inilah ringkasan apa yang diperbolehkan tentang “Ghibah”. Wallahu a’lam. [Lihat, Imam an-Nawawi, Raudhatu at-Thalibin wa ‘Umdatu al-Muftin, juz III/192-193; al-Adzkar, hal. 235]

Khatimah

Ini ketentuan tentang “Ghibah” yang diperbolehkan, menurut Imam an-Nawawi. Mengenai rincian dalilnya telah beliau uraikan dalam kitab al-Adzkar [Lihat, al-Adzkar, hal. 235-236]. Bahkan, dalam penjelasannya, Imam an-Nawawi juga menyatakan, pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, dan ulama’ lain. Wallahu a’lam.
(dari telegram Majelis Ahlulbayt)



اللَّهُ أَعْلَمُ
Allah Maha Mengetahui

Kamis, 17 September 2015

Perkenalan Pertama


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya salah satu orang yang nikah muda ... 
baru sunat langsung nikah (ngga dong)...

selamat membaca dan memahami apa yang saya copy (karena menurut saya semua orang didunia cuma copy paste) copy pengetahuan dari orang tuannya, gurunya, temannya, pengalamannya dll.

Lah itu penemu lampu, mesin watt, dan lainnya copas dari siapa ?
ya dari Allah ta'ala
sungguh Allah ta'ala yang ngasih kita akal maka mari pergunakan akal kita hehe

jangan lupa sholawat ya ۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
 ...
semoga bermanfaat ... 

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ